Tentang Surat Al Isra ayat 34-35

Tentang Surat Al Isra ayat 34-35



                                                     PEMBAHASAN
 QS. AL-ISRA’ AYAT 34-35

“Dan janganlah kamu kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampa ia dewasa, dan penuhilah janji, karena janji itu pasti di mnta pertanggung jawabannya. Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan timbangan yang bena  itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (Qs. Al-isra : 34-35)


Penjelasan
-          QS. Al-isra :34

“Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai ia dewasa”.

Mendekati harta anak yatim maksudnya ialah mmpergunakan harta anak-anak yatim tidak pada tempatnya atau tidak memberikan perlindungan kepada harta itu, sehingga habis sia-sia. Allah swt memberikan perlindungan pada harta anak yatim karena mereka sangat memerlukannya, sedangkan ia belum dapat mengurusi hartanya, dan belum dapat mencari nafkah sendiri.
Namun demikian, Allah swt memberikan pengecualian, yaitu apabila untuk pemeliharaan harta itu di perlukan biaya, atau dengan maksud untuk mengembangkannya, maka di perbolehkan bagi yang menurus anak yatim untuk mengambilnya sebagian dngan cara yang wajar.
            Oleh sebab itu, di perlukan orang yang bertanggung jawab untuk mengurus harta anak yatim. Orang yang bertugas melaksanakannya di sebut wasiy (pengampu) dan di perlukan pula badan atau lembaga yang mengursui harta anak yatim. Badan atau lembaga tersebut hendaknya di awasi aktivitasnya oleh pemerintah, agar tidak terjadi penyalahgunaan atau penyelewengan trhadap harta anak yatim tersebut.
            Kemudian dalam ayat ini di jelaskan bahwa apabila anak yatim itu telah dewasa dan mempunyai kemampuan untk mengurus dan mengembangkan hartanya, berarti sudah saatnya harta itu di serahkan kembali kepadanya.
Allah swt dalam firmannya “ penuhilah janji” maksudnya ialah melaksanakan apa yang telah di tentukan dalam perjanjian itu, dengan tidak menyimpang dari ketentuan agama dan hukum yang berlaku.
Allah memerintahkan kepada hambanya agar memenuhi janji, baik janji kepada Allah ataupun janji yan di buat sesama manusia, yaitu akad jual beli dan sewa menyewa yang termasuk dalam bidang muamalah.
Para wali juga di ingatkan agar jangan memanfaatkan harta anak yatim untuk kepentingan pribadi, dengan dalih bahwa merekalah yang mengelolanya bukan anak-anak yatim itu. Memang para wal dapat memanfaatkan nya dalam batas kepatutan, tetapi tidak membelanjakan harta itu dalam keadaan tergesa-gesa sebelum mereka dewasa.
Az-Zajjaj menjelaskan bahwa semua perintah Allah dan larangan-Nya adalah janji Allah yang harus di penuhi, termasuk pula janj ang harus di ikrarkan kepada tuhannya, dan janji yang di buat antara hamba dengan hamba.
Di akhir ayat Qs, Al-isra ayat 34, Allah menegaskan bahwa sesungguhnya janji itu harus di pertanggung jawabkan. Orang-orang yang mengkhianati janji, ataupun membatalkan janji secara sepihak akan mendapatkan balasan yang setimpal.

-          Qs. Al-isra : 35

Salah satu hal yang berkaitan dengan hak pemberian harta adalah menakar dengan sempurna. Karena itu, ayat ini melanjutkan dengan menyatatakan bahwa dan sempurnakanlah secara sungguh-sungguh takaran apabila kamu menakar untuk pihak lain dan timbanglah dengan neraca yang lurus, yakni yang benar dan adil. Itulah yang baik bagi kamu dan orang lain karena dengan demikian orang akan percaya kepada kamu sehingga semakn banyak yang berinteraksi denganmu dan melakukan hal itu juga lebih bagus akibatnya bagi kamu di akhirat nanti dan bagi seluruh masyarakat dalam kehidupan dunia ini.
Allah SWT memerintahkan kepada mereka agar menimbang barang dengan neraca (timbangan) yang benar dan sesuai dengan standar yang di tetapkan. Neraca yang benar ialah neraca yang di buat seteliti mungkin sehingga dapat memberikan kepercayan kepada orang yang melakukan jual beli, dan tidak memungkinkan terjadinya penambahan dan pengurangan secara curang.
Allah SWT mengancam orang-orang yang menurangi takaran dan timbangan ini dengan ancaman keras. Allah SWT berfirman:




Celakalah bagi orang-orang yag curang (dalam menakardan menimbang)! (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta di cukupkan, dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi.
Kata al-qisthas atau al-qusthas ada yang memahaminya dalam arti neraca, dalam arti adil. Kata ini adalah salah satu kata asing, dalam hal ini Romawi yang masuk berakulturasi dalam perbendaharaan bahasa arab yang di gunakan al-Qur’an. Demikian pendapat mujtahid yang di temukan dalam shahih al-Bukhari. Kedua maknanya yang di kemukakan di atas dapat di pertemukan karena, untuk mewujudkan keadilan. Hanya saja jika kita memahami ayat ini di tujukan kepada kaum musimin, memahaminya sebagai timbangan lebih tepat dan sesuai.
Penyempurnaan takaran dan timbangan oleh ayat di atas di nyatakan baik dan lebih bagus akibatnya. Ini karena penyempurnaan takaran atau timbangan, melahirkan rasa aman, ketentraman, dan kesejahteraaan hidup bermasyarakat. Kesemuanya dapat tercapai melali keharmonisan hubungan antara anggota masyarakat, yang antara lain ila masing-masing mamberi apa yang berlebih dari kebutuhannya dan menerima yang seimbang dengan haknya. Ini tentu saja memerlukan rasa aman menyangkut alat ukur, baik takaran maupun timbangan. Siapa yang membenarkan bagi dirinya mengurangi hak seseorang, itu mengantarnya membenarkan perlakuan serupa kepada siapa saja dan ini mengantar kepada tersebarnya kecurangan. Bila itu terjadi, rasa aman tidak akan tercipta dan ini tentu saja tidak berakibat baik bagi perorangan dan masyarakat.
Di akhir ayat, Allah SWT menjelaskan bahwa menakar atau menimbang barang dengn teliti lebih baik akibatnya bagi mereka karena di dunia mereka mendapat kepercayaan dari anggota masyarakat, dan di akhirat nanti akan mendapat pahala dari Allah dan keridaan-Nya, serta terhindar dari api neraka.


 

PENUTUP
A.    Kesimpulan
1.      Mengelola harta anak yatim secara tidak bertanggug jawab, termasuk juga larangan menggunakan harta anak yatim untuk modal usaha padahal ia tidak mempunyai kemampuan atau keadaan tidak memungkinkan.
2.      Mengurangi atau meleihkan takaran dan timbangan karena perbuatan tersebut akan merugikan orang lain, menodai kejujuran, dan menghancurkan kepercayaan orang lain terhadap dirinya.



DAFTAR PUSTAKA
      
-          Tafsir Al-Qur’an Ibnu Katsir. 1. Bin Ishaq Alu, Abdullah bin Muhamad bin Abdurrahman, Syaikh. II. ‘Abdul Ghofar, M. III Yusuf Harun, M. Tim pustaka Imam Asy-syafi’i

-          Al-Qur’an dan Tafsirnya, Jakarta: Widya Cahaya, 2011

No comments:

Post a Comment

Copyright © 2013 Kumpulan Tugas Makalah | Partner Pathmo Media And Oto News