Sholat Berjamaah Bagi Wanita

Sholat Berjamaah Bagi Wanita


BAB I

PENDAHULUAN

Sebuah fakta yang ada di depan mata kita, banyaknya kaum muslimin sekarang yang meremehkan shalat terlebih shalat berjamaah di masjid. Tidak ragu lagi bahwa fakta di atas merupakan kemungkaran yang tidak boleh didiamkan dan diremehkan.
Sebagai seorang muslim kita pasti mengerti tentang kedudukan shalat yang begitu tinggi dalam Islam. Betapa sering Allah dan Rasulnya menyebut kata shalat, memerintah melaksanakannya secara tepat waktu dan berjamaah, bahkan bermalas-malasan darinya merupakan salah satu tanda kemunafikan.
Tanyakan pada hati kita masing-masing, “pantaskah bagi seorang muslim meremehkan suatu perkara yang sangat diagungkan oleh Robbnya, nabinya dan agamanya? Apa yang kita harapkan di dunia ini? Bukankah surga yang penuh kenikmatan dan kelezatan yang kita harapkan? Dan siapakah diantara kita yang mau meniru gaya hidup orang-ornag munafiq?
Berikut ini pembahasan singkat tentang shalat berjamaah sebai nasehat dan peringatan bagi saudara-saudara saya seagama. Semoga Allah SWT menjadikannya bermanfaat bagi kita semua.
Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Adz-Dzariyat: 55)



BAB II
A.    Definisi Hukum Shalat Berjamaah
Shalat berjamaah adalah hubungan yang muncul antara ritme shalat nya imam dan makmum. Islam telah mengatur beberapa kesempatan dan pertemuan sosial di antar umat islam untuk menunaikan ibadah pada waktu-waktu tertentu. Di antaranya, ada shalat lima waktu untuk sehari semalam, shalat jum’at untuk mingguannya, dua shalat id pada setiap tahunnya yang mengumpulkan hampir seluruh penduduk negeri, dan terakhir untuk semua kalangan dan asal negara, yaitu wukuf di arafah untuk ritual tahunan, semua itu demi terjalinnya silatiurahmi, kasih sayang, dan tidak putus hubungan.

B.     Dalil Pelaksanaan Sholat Jama’ah
Dalil plaksanaan sholt berjama’ah telah di sebutkan dalm al quran, hadis atau pun ijma ulama. Adapun dalil dari al quran adalah dalm surat An-Nisa ayat 102, yang berbunyi:
  
102. Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, Maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat)[344], Maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu[345]], dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit; dan siap siagalah kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu[346].

[344] Menurut jumhur mufassirin bila telah selesai serakaat, Maka diselesaikan satu rakaat lagi sendiri, dan Nabi duduk menunggu golongan yang kedua.
[345] Yaitu rakaat yang pertama, sedang rakaat yang kedua mereka selesaikan sendiri pula dan mereka mengakhiri sembahyang mereka bersama-sama Nabi.
[346] Cara sembahyang khauf seperti tersebut pada ayat 102 ini dilakukan dalam Keadaan yang masih mungkin mengerjakannya, bila Keadaan tidak memungkinkan untuk mengerjakannya, Maka sembahyang itu dikerjakan sedapat-dapatnya, walaupun dengan mengucapkan tasbih saja.
Dalam al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 43

(#qßJŠÏ%r&ur no4qn=¢Á9$# (#qè?#uäur no4qx.¨9$# (#qãèx.ö$#ur yìtB tûüÏèÏ.º§9$# ÇÍÌÈ  
Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku'
Adapun dalil dari hadist yaitu sabda Nabi Muhamad SAW:

Shalat berjama’ah itu lebuh utama 27 derajat (kedudukan di sisi Allah) dari pada shalat sendiri”. Adapun dari ijma ulama, para sahabat telah sepakat untuk mewajibkan shalat berjama’ah.

C.    Shalat Berjama’ah Bagi Wanita
Kaum waita tidak wajib shalat berjama’ah di masjid dengan kesepakatan ulama, Namun shalat berjama’ah ini di wajibkan bagi laki-laki saja dan tidak pada wanita. Dengan demikian, shalat bagi wanita muslimah yang di kerjakan di rumah lebih baik dari pada shalatnya di masjid. Hal ini berdasarkan pada sabda Nabi SAW:
shalatnya seorang wanita di rumahnya lebih baik dari pada shalatnya di masjid”. (HR. Abu Dawud dan Al-Hakim)
            Namun demikian, wanita muslimah juga di perbolehkan shalat berjama’ah di masjid dengan syarat mereka harus menghindari segala sesuatu yang dapat menimbulkan syahwat atau fitnah, baik perhiasan maupun wewangian. Dari Abu Hurairah, dia berkata Rasululah SAW bersabda:
Wanita manapun yang memakai wangian, janganlah kalian menghadiri shalat isya bersama kami”.  (HR. Muslim, Abu Dawud, dan Nasai dengan nasad yang hasan)
Bagi kaum wanita, shalat di rumah lebih utama ( dari pada shalat di masjid). Hal ini berdasarkan hadist yang di riwayatkan oleh imam ahmad dan thabrani dari ummu Humaidah as-sai’diyah, bahwasannya dia pernah menghadap Rasulullah SAW dan brkata, wahai Rasulullah aku berkeiginan agar dapat mangarjakan shalat bersamamu. Beliau bersabda “ aku tahu itu, tetapi jika engkau shalat di rumahu itu lebih baik dari pada shalat di masjid kaum mu ini, dan jika enkau shalat di masid kaummu itu lebih baik dari pada engka shalat di masjid umum.”

D.    Syarat-Syarat Yang Harus Dipenuhi
Wanita dibolehkan menghadiri shalat berjamaah di masjid namun harus memenuhi ketentuan-ketentuan yang ditetapkan syariat seperti tidak memakai wangi-wangian sebagaimana dikabarkan oleh Zainab Ats Tsaqafiyah, istri Abdullah bin Mas’ud radliallahu anhuma. la berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada kami: “Bila salah seorang dari kalian (para wanita) ingin menghadiri shalat di masjid maka janganlah ia menyentuh wewangian.” (HR. Muslim 4/163, Ibnu Khuzaimah 1680, dan Al Baihaqi 3/439) 

Demikian juga hadits Abi Hurairah radliyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wanita mana saja yang memakai wangi-wangian maka janganlah ia menghadiri shalat lsya yang akhir bersama kami.” (HR. Muslim 4/162, Abu Daud 4175, dan Nasa’i 8/154)

Musthafa Al Adawi berkata: [Abu Muhammad Ibnu Hazm rahimahullah memiliki pendapat yang ganjil dimana ia berkata dalam Al Muhalla 4/78: "Tidak halal bagi seorang wanita menghadiri shalat di masjid dalam keadaan memakai wangi-wangian. Jika ia melakukannya maka batallah shalatnya."  Ini merupakan pendapat yang ganjil dari beliau rahimahullah. Yang benar, --wallahu a'lam-- wanita yang melakukan perbuatan demikian (memakai wewangian ketika keluar menuju masjid) berarti telah berbuat dosa, akan tetapi dosanya tersendiri dari shalatnya dan tidak ada hubungan antara dosa itu dengan batalnya shalat. Allahu a'lam.] (Jami’ Ahkamin Nisa’ 1/288) 

Al Qadli ‘Iyadl rahimahullah menyebutkan syarat dari ulama berkenaan dengan keluarnya wanita, diantaranya tidak mengenakan perhiasan, tidak memakai wewangian, dan tidak berdesak-desakan dengan laki-laki. Kata Al Qadli: “Termasuk dalam makna wewangian adalah menampakkan perhiasan dan keindahannya. Jika ada sesuatu dari perbuatan demikian maka wajib melarang mereka karena takut fitnah.” Berkata Syaikh Abdullah Al Bassam dalam kitabnya, Taudlihul Ahkam (2/283): [Terhitung wangi-wangian adalah sesuatu yang semakna dengannya berupa gerakan-gerakan yang dapat mengundang syahwat seperti pakaian yang indah, perhiasan, dan dandanan. Karena aroma si wanita, perhiasan, bentuknya, dan penonjolan kecantikannya merupakan fitnah baginya dan fitnah bagi laki-laki. 

Bila si wanita melakukan hal demikian atau melakukan sebagiannya, haram baginya untuk keluar berdasarkan hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu (telah disebutkan di atas, pent.) dan hadits dalam Shahihain dari Aisyah radliyallahu 'anhuma, ia berkata: "Seandainya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melihat apa yang dilakukan para wanita sebagaimana yang kita lihat niscaya beliau akan melarang mereka ke masjid."

Dituntunkan kepara para wanita yang hadir dalam shalat berjamaah di masjid untuk bersegera kembali ke rumah setelah menunaikan shalat. Imam Bukhari meriwayatkan dari Aisyah radliyallahu ‘anha: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunaikan shalat shubuh ketika hari masih gelap. Maka para wanita Mukminah berpaling (meninggalkan masjid) dalam keadaan mereka tidak dikenali karena gelap atau sebagian mereka tidak mengenali sebagian lainnya.” (HR. Bukhari 872) 

E.     Sebaik-Baik Shaf Wanita
 “Dari Abu Hurairah ra: Rasulullah saw bersabda : sebaik-baik shaf laki-laki adalah awalnya (baris terdepan) dan sejelek-jeleknya adalah yang paling belakang (baris terakhir). Sebaik-baik shaf perempuan adalah yang terakhir (baris paling belakang) dan sejelek-jeleknya adalah yang pertama (paling depan).” (HR. Muslim)
Keterangan :
Hadits sejenis banyak diriwayatkan oleh Tirmidzi, Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, Ad-Darami
Sanad Hadits
Jalur periwayatan hadits mengenai posisi shaf dalam shalat di atas adalah sebagai berikut :
Rasulullah-> Abdurrahman->Dzakwan->Suhail->Jarir->Zuhair bin Harb
Rasulullah-> Abdurrahman->Dzakwan->Suhail->Abdul Aziz->Qutaibah bin Said
Rasulullah-> Abdurrahman->Dzakwan->Suhail->Chalid->Muhammad bin Misbah
Rasulullah-> Abdurrahman->Dzakwan->Suhail->Ismail->Muhammad bin Misbah

Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abi Hurairah radliyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sebaik-baik shaf pria adalah shaf yang pertama dan sejelek-jelek shaf pria adalah yang paling akhir. Sebaik-baik shaf wanita adalah yang paling akhir dan sejelek-jeleknya yang paling depan.” (HR. Muslim nomor 440, Nasa’i 2/93, Abu Daud 678, Tirmidzi 224 dan ia berkata: “Hadits hasan shahih.” Ibnu Majah juga meriwayatkan hadits ini nomor 1000)

Ada beberapa pendapat ulama dalam permasalahan ini, diantaranya: Berkata Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarhu Muslim (halaman 1194): “Adapun shaf pria maka secara umum selamanya yang terbaik adalah shaf yang pertama dan yang paling jelek adalah shaf yang terakhir. Adapun shaf wanita maka yang dimaksudkan dalam hadits adalah shaf-shaf wanita yang shalat bersama kaum pria. Sedangkan bila mereka (kaum wanita) shalat terpisah dan tidak bersama kaum pria maka mereka sama dengan pria, yakni sebaik-baik shaf mereka adalah yang paling depan dan seburuk-buruknya adalah yang paling akhir. Yang dimaksud dengan jelek-nya shaf bagi pria dan wanita adalah yang paling sedikit pahalanya dan keutamaannya serta paling jauh dari tuntutan syar’i.

Sedangkan shaf yang paling baik adalah sebaliknya. Shaf yang paling akhir bagi jamaah wanita yang hadir bersama jamaah pria dikatakan memiliki keutamaan karena jauhnya para wanita itu dari bercampur (ikhtilath) dengan pria, dari melihat pria, dan tergantungnya hati tatkala melihat gerakan kaum pria, serta mendengar ucapan (pembicaraan mereka), dan semisalnya. Dan celaan bagi shaf yang terdepan bagi jamaah wanita (yang hadir bersama pria) adalah sebaliknya dari alasan di atas, wallahu a’lam.” 

Beliau rahimahullah berkata juga dalam Al Majmu’ 4/301: “Telah kami sebutkan tentang disunnahkannya memilih shaf pertama kemudian sesudahnya (shaf kedua) kemudian sesudahnya sampai shaf yang akhir”. Hukum ini berlaku terus-menerus bagi shaf pria dalam segala keadaan dan juga bagi shaf wanita yang jamaahnya khusus wanita, terpisah dari jamaah pria. Adapun jika kaum wanita shalat bersama pria dalam satu jamaah dan tidak ada pemisah/penghalang diantara keduanya, maka shaf wanita yang paling utama adalah yang paling akhir berdasarkan hadits Abi Hurairah radliyallahu ‘anhu (telah disebutkan di atas, pent.).” Berkata Imam Syaukani rahimahullah: [Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: "... dan sebaik-baik shaf wanita adalah yang paling akhir." 

Dikatakan paling baik karena berdiri pada shaf tersebut menyebabkan jauhnya dari bercampur dengan pria, berbeda dengan berdiri di shaf pertama dari shaf-shaf jamaah wanita karena mengandung (kemungkinan) bercampur dengan pria dan tergantungnya hati dengan mereka (para pria) disebabkan melihat mereka dan mendengar ucapan mereka. Karena inilah, shaf pertama dinyatakan paling jelek (bagi wanita). (Nailul Authar 3/184)] 

Dalam Subulus Salam 2/30 (Maktabah Dahlan), Imam Shan’ani rahimahullah berkata: “Shaf yang paling akhir dikatakan shaf yang terbaik bagi wanita. Alasannya karena dalam keadaan demikian mereka berada jauh dari pria, dari melihat, dan mendengar omongan mereka. Hanya saja alasan ini tidak sempurna kecuali bila shalat mereka dilakukan bersama kaum pria. Adapun bila mereka shalat dan imam mereka juga wanita (jamaah khusus wanita, pent.) maka shaf-shaf mereka hukumnya seperti shaf-shaf pria yaitu yang paling utama adalah shaf pertama.” 

Musthafa Al Adawi berkata setelah menyebutkan hadits Abi Hurairah di atas: [Ketentuan ini berlaku bila kaum wanita bergabung bersama kaum pria dalam shalat berjamaah dimana mereka berada di belakang shaf-shaf. Adapun bila jamaahnya khusus wanita atau bersama kaum pria dalam melaksanakan shalat akan tetapi mereka tidak dapat terlihat oleh pria, maka shaf yang paling baik adalah yang paling depan berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
"Seandainya mereka tahu keutamaan shaf yang terdepan niscaya mereka akan berundi untuk mendapatkannya." (HR. Bukhari 721) ] (Jami’ Ahkamin Nisa’ 1/353-354) 
F.      Izin Bagi Wanita Untuk Keluar ke Masjid
Dibolehkan bagi wanita keluar rumah untuk sholat berjamaah di masjid bersama kaum lelaki. Sedang sholat wanita di rumah adalah lebih baik. Dalam Shahih Muslim
إِذَا اسْتَأْذَنَتِ امْرَأَةُ أَحَدِكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَلاَ يَمْنَعْهَا
Apabila istri salah seorang dari kalian minta izin ke masjid maka janganlah ia melarangnya.” (HR. Al-Bukhari no. 873 dan Muslim no. 442)
Dan beliau Shallallahu'alaihi wasallam menyatakan:
لاَ تَمْنَعُوْا إِمَاءَََََََ اللهِ مَسَاجِدَ اللهِ
Janganlah kalian mencegah hamba-hamba perempuan Allah dari masjid-masjid Allah.” (HR. Al-Bukhari no. 900 dan Muslim no. 442)
Mereka menetap dan sholat di rumah mereka itu lebih utama bagi mereka demi menutup diri.
Jadi, jika wanita keluar tanpa izin suami/wali, hukumnya haram. (As-Sayyid Al-Bakri, I’anah Ath-Thalibin, 2/5). Namun disunnahkan suami/wali memberikan izin. (Imam Nawawi, Al-Majmu’, 4/199).

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
            Shalat berjamaah adalah hubungan yang muncul antara ritme shalat nya imam dan makmum. Islam telah mengatur beberapa kesempatan dan pertemuan sosial di antar umat islam untuk menunaikan ibadah pada waktu-waktu tertentu. Adapun dalil dari al quran adalah dalm surat An-Nisa ayat 102, yang berbunyi:

Tetapi alangkah baik jika wanita Beribadah dirumah dan tidak berjamaah dengan laki” di masjid,  karena ada satu hadis yang mengatakan bahwa wanita lebih baik berjamaah di rumah dengan suaminya. Jika wanita tersebut menginginkan berjamaah dengan seorang laki” hendaklah mereka tidak memakai wangi wangian.
Kaum waita tidak wajib shalat berjama’ah di masjid dengan kesepakatan ulama, Namun shalat berjama’ah ini di wajibkan bagi laki-laki saja dan tidak pada wanita. Dengan demikian, shalat bagi wanita muslimah yang di kerjakan di rumah lebih baik dari pada shalatnya di masjid. Hal ini berdasarkan pada sabda Nabi SAW:
shalatnya seorang wanita di rumahnya lebih baik dari pada shalatnya di masjid”. (HR. Abu Dawud dan Al-Hakim)
Wanita dibolehkan menghadiri shalat berjamaah di masjid namun harus memenuhi ketentuan-ketentuan yang ditetapkan syariat seperti tidak memakai wangi-wangian sebagaimana dikabarkan oleh Zainab Ats Tsaqafiyah, istri Abdullah bin Mas’ud radliallahu anhuma. la berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada kami: “Bila salah seorang dari kalian (para wanita) ingin menghadiri shalat di masjid maka janganlah ia menyentuh wewangian.” (HR. Muslim 4/163, Ibnu Khuzaimah 1680, dan Al Baihaqi 3/439) 


Daftar pustaka

Fiqih Islam Wa Adilatuhu
Fikih sunah sayid sabiq





No comments:

Post a Comment

Copyright © 2013 Kumpulan Tugas Makalah | Partner Pathmo Media And Oto News