Talfiq

Talfiq

Pada zaman sekarang ini banyak sekali diperdebatka masalah-masalah mazhab dikalangan masyarakat,mereka banyak yang mempermasalahkan mazhab-mazhab tersebut sebagai contoh ada seseorang yang beranggapa bahwa mazhab safi`I yang paling benar,ada pula yang mengatakan bahwa mazhab hambali-lah yang paling benar.Dan bahkan ada yang menggunakan dua mazhab sekaligus.
Permasalahan-permasalahan diatas sebenarnya ada pembahasannya didalam ushul fiqh,yang mana kita kenal dengan istilah “talfiq”kemudian pembahasan yang ada didalam talfiq sendiri sebenarnya memuat tentang masalah-masalah mazhab tersebut.Dan arti dari talfiq sendiri yaitu menggunakan dua mazhab sekaligus,dan pada makalah ini mencoba memaparkannya secara jelas mengenai talfiq di dalam islam dan bagaimana hukum talfiq itu sendiri.


A.Pengertian Talfiq
Talfiq menurut bahasa adalah menutup,menambal,tak dapat mencapai,dan lain sebagainya.
Adapun “talfiq” yang dimaksud dalam pembahasan ushul fiqh adalah

اَ لْعَمَلُ بِحُكْمٍ مُؤَ لَّفِ بَيْنَ مَذْ هَبَيْنِ أَ وْ أَكْثَرَ
Artinya: Mengamalkan satu hukum yang terdiri dari dua mazhab atau lebih.
Maksudnya adalah seperti seseorang mengikuti pendapat syafi`I dalam masalah iddah wanita yang di talak,karena merasa balasannya lebih kuat dari mazhab lain umpamanya.Sedang dalam hal tidak adanya wali mujbir dalam perkawinan,ia mengikuti pendapat hanafi,karena merasa alasannya lebih kuat.yang demikian dinamakan talfiq dalam masalah yang berlainan.
Di samping itu mungkin juga termasuk di dalam kategori talfiq,seseorang bertalfiq dalam satu masalah,seperti dalam masalah wudhu.Seseorang tidak melafalkan niat karena mengikuti mazhab hanafy tapi dalam hal mengusap kepala ketika wudhu cukup sebagian kepala saja,karena menggikuti mazhab maliki misalnya. Persoalan talfiq adalah seperti taklid,ruang lingkupnya adalah masalah-masalah ijtihadiah yang sifatnya zanni sehingga muncul perbedaan pendapat mengenainya.
B.Hukum Talfiq
Persoalan talfiq adalh seperti taklid,ruang lingkupnya adalah masalah-maalah ijtihadiah yang sifatnya zanni sehingga muncul perbedaan pendapat mengenainya.Adapun hukum-hukum syara yang diketahui kepastiannya dari agama islam yaitu hal-hal yang telah di sepakati ulama dan menyebabkan pengingkarnya kafir,maka tiad sh taklid,apalagi talfiq.Dengan dmikian tidak boleh talfiq yang dapat mebawa kepada pembolehan hal-hal yang di sepakati keharamannya atau mengharamkan sesuatu yang di sepakati kebolahannya,atau memperbolehkan sesuatu hal yang telah disepakati kewajibannya.Misalnya dalam bidang keperdataan ialah: seorang laki-laki mengaini perempuan tanpa ali,tanpa saksi,dan mas kain berdasarkan taklid pada tiap-tiap mazhab pada bagian bagian tertentu.Akan tetapi perkawinan semacam itu tak seorang ulamapun yang berpendapat demikian dan semua sepakat bahwa perkawinan itu tidak sah.

Adapun argument ulama yang melarang tlfiq ialah:pentakhrijan terhadap pendapat ulama yang terbagi kedalam dua kelompok mengenai hukum suatu masalah.Menurut kebanyakan ulama berdasarkan adanya dua versi pendapat yang berbeda itu,tidak boleh memunculkan pendapat baru yang ketiga yang membatalkan suatu yang telah menjadi objek kesepakatan mereka.MIsalnya iddah istri yang hamil yang suaminya meninggal dunia ada dua pendapat berkenaan dengan ini yaitu pendapat pertama ialah,persalinan kandungannya,pendapat kedua yang terlama dari dua masa:persalinan kandungan apa empat bulan sepuluh hari.Jika yang lebih lam waktunya adalah persalinan kandungannya maka persalinan itulah masa iddahnya.Sebaliknya apabila empat bulan sepuluh hari merupakan masa yang lebih lama dari pada persalinan kandungannya,maka iddahnya empat ulan sepuluh hari selanjutnya tidak boleh memunculkan pendapat yang ketiga bahwa masa iddahnya empat bulan sepuluh hari saja berdasarkan talfiq terhadap dua pendapat tersebut.
Agaknya pendapat ini perlu di tinjau kembali,sebab ide taalfiq didasarkan atas ide taklid yang di munculkan oleh ulama mataakhirin pada zaman kemunduran islam.Ide tersebut tiak di kenal pada zaman salaf baik pad masa rasulullah saw,para sahabatnya,masa tabi`in maupun masa para imam mujtahid dan para muridnya sesudahnya disamping itu seseorang tidak wajib mengikuti suatu mazhab tertentu dalam sgala masalah yang di hadapinya,sseorang yang tidak terikat pada suatu mazhab tertentu boleh bertalfiq jika tidak maka akan brakibat batalnya ibadah-ibadah masyarakat awam.
Sebab kita nyaris tidak menjumpai orang awam yang mengerjakan ibadah yang sesuai dengan suatu mazhab tertentu,adapun persyaratan yang mereka kemukakan berup memelihara perbedaan pendapat diantara mazhab-mazhab apabila seseorang bertaklid pada mazhab tertentu atau meninggalkan mazhabnya did ala suatu hal maka itu adalah hal yang sulit.Hal ini bertentangan denga prinsip kemudahn da toleransi di dalam syariat islam dan tidak sejalan dengan kemaslahatan ummat manusia.
Selanjutnya mengenai klaim sebagai ulama mazhab hanafi mengenai danya ijma yang melarang talfiq maka hal itu semata-mata kesepakatan ulama mazhabnya saja.Dalam kenyataannya tidak ada ijma tidak ada petunjuk terhadap tidak adnya ijma yang lebih kuat dari pada tentangan banyak ulama mutaakhirin yang menyatakan bahwa talfiq itu boleh selama tidak membawa kepada suatu pndpat yang bertentangan dengan nash atau ijma.

Talfiq yang di larang mekipun sebagian ulama memperbolehkan talfiq,terutama dari kalangan ulama mutaakhirin akan tetapi kbolhan talfiq itu tidaklah bersifat mutlak.bahkan,kebolehannya terbats di dalam ruanhg lingkup tertentu sebab diantara talfiq ada yang batal karena esensinya (zatnya),sebagaimana talfiq yang mengakibatkan halalnya hal-hal haram seperti minuman keras,zina dan lainya.
Kemudian adapula talfiq yang dilarang ukan karena zatnya akan tetapi karena hal lain,talfiq bentuk kedua ini yang dilarang ada dua macam sebagai berikut :
1) Talfiq yang secara sengaja dimaksudkan mencari yang ringan-ringan saja dalam hukum syara misalnya,seseorang mengambil dari masing-masi mazhab pendapat yang paling lemah,tanpa terdesak oleh darurat atu alasan lain.Hal ini dilarang dalam rangka menutup pintu kerusakan akibat plcehan ukum syara.
2) Talfiq yang dapat berakibat pembatalan putusan hakim,menghilangkan persngketaan,dalam rangka menghindari kekacauan.
3) Talfik yang berakibat terhadap peninjauan kembali apa yang telah diamalkan seseorang atas dasar takqlid,atau hal yang diijma`kan ulama yang berkenaan dengan hal yang ditaklidkan.

No comments:

Post a Comment

Copyright © 2013 Kumpulan Tugas Makalah | Partner Pathmo Media And Oto News