Ayat-Ayat Ahkam (ZIHAR)

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Manusia diciptakan oleh Allah dengan karakter yang berbeda. Inilah yang menyebabkan keragaman ekosistem manusia. Banyak dari mereka yang menjadi orang baik. Namun tak sedikit pula yang melanggar ketentuan Allah. Di antara al ‘ashi (pendosa) adalah orang yang melakukan zhihar dan ila’ terhadap istrinya.
Ada banyak hal yang melatarbelakangi mereka berbuat demikian. Baik faktor dari diri sendiri (intern) maupun orang lain (ekstern). Terlepas dari kedua faktor tersebut, mereka yang mengila’ maupun mengzhihar istrinya tetap mendapatkan dosa. Dosa itu harus ditebus dengan fai’/ruju’ (kembali kepada istri) atau cerai untuk ila’ dan berpuasa selama dua bulan untuk zhihar. Selain itu, taubat kepada Allah adalah hal yang terpenting dilaksanakan.
Terkait permasalahan di atas, makalah ini akan mengutarakan sedikit tentang ila’ dan zhihar beserta pendapat beberapa ulama Mufassir mengenai ayat yang menjelaskan tentang keduanya, yaitu Q.S. Al Baqarah: 226-227, Q.S. Al Mujadilah: 2-4 dan Q.S. Al Ahzab: 4.
Semoga makalah ini bisa menjadi stimulus bagi para pembaca dalam mempelajari ayat-ayat al Qur’an beserta tafsirnya, khususnya yang berkaitan dengan ila’ dan zhihar.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dalam makalah ini akan dibahas beberapa permasalahan sebagai berikut:
1. Apa itu zhihar dan bagaimana hukumnya?
2. Sebutkan macam-macam kaffarat zhihar?
3. Apa yang dimaksud dengan ila’ ?
4. Bagaimana pendapat ulama’ tentang ila’?
BAB II
PEMBAHASAN

A. ZHIHAR

I. SURAT AL-AHZAB : 4

Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar[1198] itu sebagai ibumu, dan dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). yang demikian itu hanyalah perkataanmu dimulutmu saja. dan Allah mengatakan yang Sebenarnya dan dia menunjukkan jalan (yang benar).

A. Mufradat
المفردات :
اللائي : اللتي
تظاهرون : تشبيه الزوج الزوجة باالأمّ
أدعياءكم : جمع دعيّ، و هو الذي يدعي ابناً و ليس بابن
أفواه : فم
B. Tafsiran Ayat
Secara umum ayat ini membicarakan perintah mengikuti tuntunan wahyu, dan larangan bersandar kepada kebiasaan mayarakat Jahiliyah yang dipandang bertentangan dengan ketentuan-ketentuan hukum Allah. Ayat di atas juga merupakan Muqoddimah dari pengharaman zhihar, yang ketika itu dijadikan sebagai kebiasaan untuk menceraikan istri serta pembatalan pengadopsian anak yang diakui mempunyai hak dan kewajiban seperti anak kandung.
Pada awal ayat ini dikatakan "Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya"; yang satu mengarah ke kiri dan yang lain mengarah ke kanan. Artinya, seseorang tidak dibenarkan menyembah Allah dan di lain waktu menyembah berhala atau dengan kata lain tidak akan bersatu antara iman dan kufur, hidayah dan kesesatan di dalam hati.
Menurut Ibnu Asy'ur ayat di atas berkaitan dengan substansi dan hakikat amal perbuatan guna tegaknya syari'at. Dijelaskan dalam ayat ini juga, bahwa substansi dan hakikat sesuatu adalah yang melekat pada dirinya, bukan atas dasar dugaan atau pengakuan seseorang.
Kata zhihar yang merupakan pengakuan seseorang secara hukum sekaligus yang dimaksud dalam ayat di atas adalah mempersamakan istri sendiri dengan ibu kandung atau dengan wanita lain yang haram dikawini oleh sang suami dengan keharaman abadi-baik dengan mempersamakannya dengan punggung atau salah satu bagian badan wanita lain. Walaupun ada juga mengatakan zhihar hanya mempersamakan istri dengan ibu bukan dengan wanita yang lain.
Dalam masyarakat Jahiliyah, zhihar diperbolehkan dan disamakan dengan talak bain kubra sehingga istri yang telah dizhihar oleh suaminya tidak dapat kembali lagi ke suaminya untuk selama-lamanya. Akan tetapi setelah turunnya ayat ini, maka zhihar diharamkan dan untuk menebusnya suami yang ingin kembali kepada istrinya setelah terjadinya zhihar diwajibkan untuk kaffarah dalam hal ini akan dibahas secara rinci pada surat al-Mujadalah ayat 2-4.
Sesuai dengan pembahasan, ayat ini menjelaskan zhihar secara umum dan akan dijelaskan lagi secara terperinci pada surat al-Mujadalah ayat 2-4 sehingga pemakalah tidak terlalu menyinggung tentang zhihar secara mendalam.

II. SURAT AL-MUJADALAH : 2-4

2. Orang-orang yang menzhihar isterinya di antara kamu, (menganggap isterinya sebagai ibunya, padahal) tiadalah isteri mereka itu ibu mereka. ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. dan Sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan mungkar dan dusta. dan Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.
3. Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, Kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, Maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
4. Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), Maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak Kuasa (wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. dan Itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang kafir ada siksaan yang sangat pedih.

المفردات :
اللآئى : جمع التي
منكرا : ضدّ المعروف ، كلّ ما قبّحه الشرع و حرّمه و كرهه فهو منكرٌ
وزوراً : الكذب
يتماساًّ : المسُّ : كناية عن الجماع

B. Tafsiran Ayat
Pada ayat sebelumnya diceritakan bahwa telah terjadi perbincangan dan perdebatan antara seorang perempuan yang bernama Kaulah binti tsa'labah dengan Rasulullah mengenai nasib dirinya yang telah dizhihar oleh suaminya Aush ibn As-Shamit. Namun ketika itu Rasul hanya mengatakan bahwa ia haram untuk digauli oleh suaminya. Dengan didorong perasaan khawatir ditinggal oleh sang suami serta takut kehilangan anaknya maka Khaulah tidak puas akan jawaban Rasulullah sehingga ia mendebatkan masalah ini kemudian ia juga mengadukannya kepada Allah hingga turunlah ayat ini sebagai jawaban dari perdebatan mereka.
Juga pada surat al-Ahzab ayat 4 dijelaskan zhihar secara umum dan pada ayat ini akan dijelaskan kembali mengenai zhihar namun secara mendalam.
Pada jaman Jahiliiah, zhihar dipersamakan dengan talak bahkan zhihar dianggap sebagai talak bain kubra sehingga si istri tidak boleh kembali kepada suaminya untuk selama-lamanya walaupun dengan akad nikah baru. Akan tetapi setelah datangnya islam zhihar dibedakan dengan talak. Dengan alasan bahwa zhihar hukumnya haram sedangkan talak itu mubah dan sesuatu yang berbeda tidak bisa disamakan.
Jadi orang yang zhihar istrinya tidak bisa dikatakan talak walaupun niatnya adalah talak dan sebaliknya orang yang mentalak istrinya tidak bisa dinyatakan zhihar walaupun maksudnya adalah zhihar. Karena ungkapan itu sesuai dengan bunyi lafadznya bukan niatnya.
Ada beberapa hal yang perlu dibahas mengenai zhihar, oleh karena itu pemakalah membuat beberapa pebahasan tentang zhihar sehingga lebih mudah untuk dipahami.
1. Pengertian zhihar dan hukumnya
Zhihar secara bahasa diambil dari kata ظهر yakni punggung. Hal ini dikarenakan orang-orang yahudi mengibaratkan istri yang digauli sebagai kendaraan yang ditunggangi. Sehingga mereka melarang menggauli istri dari belakang karena dapat mengakibatkan lahirnya anak yang cacat.
Sedangkan zhihar secara istilah adalah ucapan seorang mukallaf (dewasa dan berakal) kepada istrinya bahwa dia sama dengan ibunya, Namun Abu Hanifah mengatakan bahwa tidak hanya ibu akan tetapi bisa juga wanita lain yang haram untuk dinilahi baik karena hubungan darah, perkawinan, penyusuan maupun sebab lain seperti lafadz " Punggung kamu seperti punggung saudara perempuanku" sebagaimana juga dikatakan oleh Quraish Shihab dalam tafsirnya.
Namun Jumhur Ulama' mengatakan bahwa yang dikatakan zhihar hanya mempersamakan istri dengan ibu saja seperti yang termaktub dalam al-Qur'an dan sunnah Rasul. Sehingga mempersamakan istri dengan wanita muharramat selain ibu belum dikatakan zhihar.
Sedangkan menyamakan istri dengan ibu atau muharramat untuk suatu penghormatan atau ungkapan kasih sayang tidak dikatakan zhihar namun perbuatan tersebut dibenci oleh Rasulullah.
2. Hukum zhihar dari seorang istri
Mempersamakan istri oleh suami dengan ibu atau muharramatnya adalah haram sebagaimana telah dibahas sebelumnya. Sedangkan hukum mempersamakan suami dengan ayah atau muharramat oleh istri menurut fuqaha' batal atau sia-sia. Karena akad dalam pernikahan berada pada suami dan dari aspek sejarah, kata zhihar memang hanya dilakukan suami dan tidak pernah dilakukan oleh istri.
3. Hukum Zhihar terhadap calon istri dan budak perempuan
Menurut Imam Syafi'i ucapan zhihar yang ditujukan kepada calon istri tidak mengandung konsekuensi hukum, hal ini dikarenakan zhihar hanya berlaku terhadap istri yang sah saja.
Sedangkan zhihar yang ditujukan kepada budak perempuan menurut Imam Hanafi, Hambali, dan Syafi'i tidaklah sah dan tidak diwajibkan pula kaffarah atasnya. Karena yang dimaksud dengan النساء pada ayat ini adalah wanita yang merdeka bukan budak.
Sedangkan imam malik berpendapat bahwa zhihar terhadap budak hukumnya sah, karena menurut beliau budak itu sama dengan orang yang merdeka. Berbeda dengan imam Ahmad dalam salah satu fatwanya menyatakan bahwa zhihar semacam ini hukumnya batal akan tetapi diwajibkan kaffarah.
4. macam-macam kaffarah zhihar
Berbicara tentang zhihar maka tidak akan terlepas dari pembahasan mengenai kaffarah karena adanya kaffara timbul setelah terucapnya sumpah zhihar. Pada surat al-mujadallah ayat 3-4 secara spesifik telah dijelaskan macam-macam kaffarat zhihar, antara lain :
a. Memerdekakan budak
Budak yang dimaksud dalam ayat ini adalah budak perempuan atau laki-laki, mukmin atau kafir. Namun syafi'i dan maliki mensyaratkan budak tersebut harus mukmin karena sesuatu yang mutlak dapat dibawa kepada yang muqayyat, sesuai dengan ayat tentang pembunuhan (QS. An-nisa':92).
Namun pendapat ini dibantah oleh imam hanafi, menurut beliau sesuatu yang mutlak tidak dibawa kepada yang muqayyat kecuali pada hukum dan kejadian yang sama. Ini merupakan kejadian yang berbeda sehingga tidak dimungkinkan membawa yang mutlak pada yang muqayyad.
b. puasa 2 bulan berturut-turut
jika seseorang tidak mampu untuk memerdekakan budak maka dia wajib berpuasa selama 2 bulan berturut-turut. Dan hitungan 1 bulan sesuai dengan hitungan hilal tanpa membedakan yang ganjil atau genap yaitu 60 hari secara berturut-turut.
c. memberi makan 60 orang miskin
ketentuan ini dapat dilakukan jika tidak mampu mememrdekakan budak atau melaksanakan puasa 2 bulan berturut-turut. Dan mengenai kadar makanan yang harus diberikan kepada masing-masing orang miskin tidak ditentukan hanya saja harus dapat mengenyangkan. menurut abu hanifah, jatah 60 orang miskin tersebut dapat diberikan kepada satu orang miskin yang setiap harinya mendapat 1 sho'.

B. Ila’
I. Q.S. al Baqarah/2: 226-227
Ayat dalam al Qur’an yang menjelaskan tentang ila’ adalah Q.S. al Baqarah/2 : 226-2227 di bawah ini:
لِلَّذِينَ يُؤْلُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ تَرَبُّصُ أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ فَإِنْ فَاءُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ. وَإِنْ عَزَمُوا الطَّلَاقَ فَإِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ . (البقرة : 226-227)
Artinya: Kepada orang-orang yang meng-ilaa' istrinya diberi tangguh empat bulan (lamanya). kemudian jika mereka kembali (kepada istrinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan jika mereka ber'azam (bertetap hati untuk) talak, maka sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S. al Baqarah/2: 226-227)
Secara garis besar ayat di atas menjelaskan mengenai hal-hal berikut:
a. Batasan waktu ila’.
b. Status suami yang mengila’ istrinya.
c. Konsekuensi ila’.

1. Mufradat Ayat
Ila’ secara etimologi ialah qism, yamin, half yang berarti sumpah. Sedangkan menurut istilah, ila’ adalah sumpah seorang suami untuk tidak menggauli istrinya lebih dari empat bulan. Misalnya ia mengatakan, “Demi Allah, aku tidak akan mendekatimu, demi Allah aku tidak akan menggaulimu, dan sebagainya.”
Sedangkan menurut M. Quraush Shihab, ila’ ialah sumpah yang dilakukan oleh suami, baik dalam keadaan marah maupun tidak, untuk tidak melakukan hubungan seks dengan istri mereka. Dalam pengerian ini dilejaskan lebih detail mengenai keadaan suami ketika mengila’ yaitu marah atau tidak.
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa apabila seorang lelaki telah bersumpah untuk menjauhi istrinya dalam waktu tertentu yang dalam Islam dibatasi sampai empat bulan, maka berarti ia telah melakukan ila’. Akibatnya ia harus membayar kafarat apabila ingin beristimta’ lagi dengan istrinya atau bercerai jika sudah tak berkehendak untuk melanjutkan pernikahan. Mengenai hal tersebut akan dijelaskan pada subbab selanjutnya.
Dalam ayat ke-226 dari surat al Baqarah juga ditemukan kata tarabbush. Tarabbush didefinisikan dengan intizhar,nazhr dan tawaqquf yang dalam bahasa Indonesia diartikan dengan menunggu. Dengan demikian maksud dari ayat tersebut adalah masa menanti bagi seorang wanita yang telah diila’ oleh suaminya yakni empat bulan.
Selain ila’ dan tarabbush, juga ada kata fa’u. Wahbah Zuhaili menafsirkan fa’u dengan raja’u ila nisaihim ‘an al yamin (kembali kepada istrinya setelah melakukan ila’). Demikian juga dengan al Shabuni.
Demikianlah beberapa kosakata yang dirasa perlu adanya penjelasan dalam makalah ini supaya lebih memudahkan dalam penelaahan berikutnya.
2. Kandungan Ayat
Sebelum menjelaskan tentang kandungan ayat, terlebih dahulu akan dipaparkan mengenai asbab al nuzul. Sebab dengan mengetahui asbab al nuzul, maka akan diperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai suatu hukum. Nuzul ayat 226-227 dari surat al Baqarah dilatarbelakangi oleh beberapa peristiwa, antara lain seperti disebutkan di bawah ini.
a. Diriwayatkan dari Ibn Abbas bahwasanya ila’ di masa Jahiliyah itu selama satu, dua tahun dan lebih (tidak terbatas). Kemudian Allah membatasinya hingga empat bulan saja. Barang siapa yang ila’-nya kurang dari empat bulan, maka itu bukanlah ila’. Menurut Sa’id bin Musayyab, illa’ merupakan tindakan yang efek negatifnya sangat dirasakan oleh masyarakat Jahiliyah saat itu. Sebab suami tak berminat lagi dengan istrinya dan tak suka jika ada orang lain yang menikahi istrinya. Oleh karena itu, ia bersumpah tidak akan mendekati dan meninggalkan istrinya untuk selama-lamanya. Allah kemudian menetapkan batasan bagi wanita yang diila’, yaitu empat bulan. Maka turunlah ayat لِلَّذِينَ يُؤْلُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ .... الاية.
b. Ibnu Majah meriwayatkan bahwa Zainab pernah menolak hadiah yang diberikan oleh Nabi Muhammad, sehingga menyebabkan Nabi marah dan mengila’ dirinya.
Merupakan hal yang biasa terjadi di masyarakat Jahiliyah, bahwa para istri dianiaya oleh suaminya, antara lain dengan cara tidak melakukan hubungan intim dalam waktu yang lama. Fenomena tersebut tentu saja sangat merugikan wanita. Karena status pernikahannya digantung oleh suaminya. Di samping itu, ia juga tidak bisa bergerak secara bebas dan pada akhirnya yang umum terjadi adalah perasaan tertekan yang dirasakan oleh para wanita.
Untuk merespons hal tersebut, Allah menurunkan ayat tentang ila’ yakni Q.S. al Baqarah/2: 226-227. Dengan adanya ayat ini, martabat wanita terangkat, hak-haknya sebagai istri akan diperoleh dan kelaliman yang diperbuat oleh suaminya akan berkurang. Islam membatasi waktu ila’ sampai empat bulan. Setelah waktu yang ditentukan habis, maka hanya ada dua opsi yang ditawarkan kepada suami, yaitu melanjutkan pernikahan atau bercerai.
Adapun pihak yang boleh melakukan ila’ yaitu orang-orang yang boleh menjatuhkan talak, meliputi orang merdeka, budak, pemabuk, pemboros dan orang yang di bawah pengampuan (dengan catatan mereka harus baligh) serta pria baya yang masih memiliki quwah dan nasyath untuk berjima’.
Terkait dengan kriteria sumpah yang termasuk dalam kategori ila’, di antara ulama masih terjadi perselisihan pendapat, sebagai berikut:
1) Imam Syafi’i dalam Qaul Jadid mengatakan bahwa hanya sumpah yang disertai dengan nama Allah saja yang bisa menjatuhkan ila’. Dasar yang dia pakai adalah hadits من كان حالفا, فليحلف با لله أو ليصمت.
2) Golongan Hanafiyah dan Malikiyah berpendapat bahwa segala bentuk sumpah yang mengindikasikan pada tarku al wathi (meninggalkan jima’) disebut ila’. Ini sesuai dengan perkataan Ibn Abbas:
كل يمين منعت جماعا فهي ايلاء. وكل من حلف بالله او بصفة من صفاته, فقال: أقسم بالله أو أشهد بالله, أو علي عهد الله و كفالته وميثاقه و ذمته, فانه يلزمه الايلاء اتفاقا
Para ulama pun telah sepakat, kalau ada seorang suami meninggalkan istrinya dalam waktu lebih dari empat bulan, tidak juga disebut ila’, kecuali kalau dia bersumpah, karena firman Allah jelas mengatakan لِلَّذِينَ يُؤْلُونَ. Maksudnya ialah orang-orang yang mengila’ istri-istrinya. Sedangkan meninggalkan itu sendiri tidak disebut sumpah. Oleh karena itu ada kaitannya dengan wajib kafarat dan istrinya tidak tertalak karena meninggalkannya.
Dalam menafsirkan al Qur’an, para Mufassir masih berselisih pendapat tentang waktu di mana perempuan itu tertalak oleh suaminya. Berikut ini beberapa pendapat ulama mengenai hal itu.
a) Menurut Ibn Abbas, apabila ila’ itu lebih dari empat bulan dan si suami tidak juga kembali, otomatis tertalak satu. Dan ini pendirian Madzhab Hanifah pula.
b) Imam Malik, Syafi’i dan Ahmad mengatakan bahwa berlalunya waktu itu tidak menjadikan istri otomatis tertalak. Tetapi suami diperintahkan untuk memilih kembali atau talak. Maka apabila suami tetap enggan menalak, maka hakimlah yang menceraikannya.
Ayat ila’ tersebut di atas selanjutnya menimbulkan kontroversi di kalangan ulama terkait apakah ila’ disyaratkan untuk menyusahkan (li al idhrar) ataukah tidak. Dalam hal ini ulama terbagi ke dalam beberapa kubu, yaitu:
1) Abu Hanifah, Syafi’i dan Ahmad, menurut mereka ila’ dianggap sah meskipun diucapkan dalam keadaan rela maupun marah. Pendapat ini juga didukung oleh Ibn Jarir al Thabari.
2) Malik berpendapat bahwa ila’ itu sah apabila diucapkan dalam keadaan marah dan untuk menyusahkan. Dalil yang ia gunakan adalah apa yang diriwayatkan oleh Ali bahwa ia pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang bersumpah tidak akan mencampuri istrinya sehingga anaknya disapih. Dan sama sekali tidak dikandung maksud untuk menyusahkan pihak istri, tapi semata-mata demi kemaslahatan anak. Maka Ali menjawab, “Engkau benar-benar bermaksud baik. Ila’ itu hanya dalam keadaan marah.
Telah dijelaskan di muka bahwa hanya ada dua pilihan bagi suami yang telah mengila’ istrinya, yakni kembali dan cerai. Ruju’ yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah bercampur. Ini sesuai dengan pendapat Sa’id bin Zubair dan al Sya’bi. Ada pula yang berpendapat bahwa kembali di situ adalah kembali bagi orang yang tidak ada uzur. Ii sesuai dengan yang dikemukakan Jumhur ulama. Adapun cara untuk melakukan fai’ (kembali) ialah dengan perbuatan, seperti jima’ dan dengan ucapan.
BAB III
KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan yang luas diatas tentang masalah ila' dan zhihar maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Zhihar adalah ucapan seorang mukallaf (dewasa dan berakal) kepada istrinya bahwa dia sama dengan ibu atau muharramatnya. Dan hukunya adalah haram.
2. Macam-macam kaffarat zhihar :
• Memerdekakan budak
• Puasa 2 bulan berturut-turut
• Memberi makan kepada 60 oarang miskin
3. Ila’ adalah sumpah seorang suami untuk tidak menggauli istrinya lebih dari empat bulan.

DAFTAR PUSTAKA
Al Shabuni, Muhammad Ali. 2001. Rawai’ al Bayan Tafsir Ayat al Ahkam min al Qur’an. Jakarta: Dar al Kutub al Islamiyah.
Shihab , M. Quraish. 2002. Tafsir al Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al Qur’an Volume 1. Jakarta: Lentera Hati.
Zuhaili, Wahbah. 1991. Al Tafsir al Munir fi al ‘Aqidah wa al Syari’ah wa al Manhaj. Lebanon: Dar al Fikr al Mu’ashir.
Al Sayis, Muhammad Ali. 1953. Tafsir Ayat al Ahkam. Mesir: Mathba’ah Muhammad Ali Shubh.

ILA’ DAN ZHIHAR

Makalah diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah
Tafsir Hukum Keluarga Islam

Oleh:
Abdul Wahid C51207002
Aspan Hudawi Siregar C51207010
Hibatun Wafiroh C51207017
Previous
Next Post »
Thanks for your comment